snow ^^

Senin, 17 Februari 2014

JERITAN ORANG PINGGIRAN



Terik mentari menyeruak diantara hiruk pikuk ibu kota,ya Jakarta memang selalu “ajek” dari waktu ke waktu,pemandangan pengamen cilik,penjual koran,pemin ta sedekah di pinggiran trotoar seperti tak pernah absen membuat Jkarta selalu terlihat seperti kota urban yang “sumpeg” belum lagi di pelipis Jakarta,dibawah kita terdapat jembatan layang yang selalu kita sapa setiap berangkat pagi buta dan pulang larut malam,hanya sekedar “numpang lewat” tanpa memperhatikan adanya tanda-tanda kehidupan disitu.
Adanya angan untuk menyambung hidup dan mimpip-mimpi yang nampaknya mustahi bagi mereka,lalu? Siapa mereka? Seorang bocah yang malang tertatih di pagi buta,bersama kawan cilik lainya membawa gitar tua dan menyeruak di lalu lalang Jakarta,seorang ibu dibawah jembatan kumuh membangun gubug reot yang tak pantas disebut “gubuk” hanya beralaskan koran dan kardus bekas berusaha menyambung hidup yang bergantung pada suaminya,yang ternyata hanya seorang tukang parkir di “clubbing” elit daerah Menten,hidup bersama bayi’nya yang kelak akan dapat memperbaiki kehidupan mereka.
Bagaimana dengan bocah yang kerap disapa “Tukang sol sepatu” di masjid kawasan Taman Mini Indonesia Indah (TMII) yang ingin bersekolah dan mendapatkan hak pendidikan layaknya anak seusia merekka? Sementara yang lain bersekolah di sekolah yang mewah dengan biaya yang mencekik bagi kaum pinggiran.Lihatlah seorang kakek yang menggantungkan hidupnya pada becak tua kesayanganya,yang tetap tegar menghadapi getirtnya kota Jakarta di masa tuanya?
Bagaimana dengan pemerintah yang sepertinya hanya mencanangkan biaya pendidikan gratis tanpa realita? Jika memang benar sudah terlaksana,itupun belum mampu tingkat pengangguran anak-anak jalanan yang seharusnya sedang mengenyam pendidikan di jenjang usia mereka,bagaimana dengan jaminan kesehatan masyarakat miskin di pelosok desa yang kabarnya terabaikan hak nya untuk memperoleh penanganan kesehatan ,sering terlihat di media massa adanya penolakan beberapa rumah sakit yang tidak bersedia memberi penanganan medis pada pasien miskin yang tidak ditangani dengan cepat hingga ia meninggal

            Marilah lebih melihat dengan mata batin,dengan hati nurani kita,bersyukurlah untuk apa yang telah kita punya,tolonglah sesama selagi mampu,semoga Tuhan memberkahi kita semua.Amin

Tidak ada komentar:

Posting Komentar