Terik
mentari menyeruak diantara hiruk pikuk ibu kota,ya Jakarta memang selalu “ajek” dari waktu ke waktu,pemandangan
pengamen cilik,penjual koran,pemin ta sedekah di pinggiran trotoar seperti tak pernah
absen membuat Jkarta selalu terlihat seperti kota urban yang “sumpeg” belum lagi di pelipis
Jakarta,dibawah kita terdapat jembatan layang yang selalu kita sapa setiap
berangkat pagi buta dan pulang larut malam,hanya sekedar “numpang lewat” tanpa
memperhatikan adanya tanda-tanda kehidupan disitu.
Adanya angan untuk menyambung hidup dan mimpip-mimpi yang
nampaknya mustahi bagi mereka,lalu? Siapa mereka? Seorang bocah yang malang
tertatih di pagi buta,bersama kawan cilik lainya membawa gitar tua dan menyeruak
di lalu lalang Jakarta,seorang ibu dibawah jembatan kumuh membangun gubug reot
yang tak pantas disebut “gubuk” hanya beralaskan koran dan kardus bekas
berusaha menyambung hidup yang bergantung pada suaminya,yang ternyata hanya
seorang tukang parkir di “clubbing” elit daerah Menten,hidup bersama bayi’nya
yang kelak akan dapat memperbaiki kehidupan mereka.
Bagaimana dengan bocah yang kerap disapa “Tukang sol sepatu”
di masjid kawasan Taman Mini Indonesia Indah (TMII) yang ingin bersekolah dan
mendapatkan hak pendidikan layaknya anak seusia merekka? Sementara yang lain
bersekolah di sekolah yang mewah dengan biaya yang mencekik bagi kaum pinggiran.Lihatlah
seorang kakek yang menggantungkan hidupnya pada becak tua kesayanganya,yang
tetap tegar menghadapi getirtnya kota Jakarta di masa tuanya?
Bagaimana dengan pemerintah yang sepertinya hanya
mencanangkan biaya pendidikan gratis tanpa realita? Jika memang benar sudah
terlaksana,itupun belum mampu tingkat pengangguran anak-anak jalanan yang
seharusnya sedang mengenyam pendidikan di jenjang usia mereka,bagaimana dengan
jaminan kesehatan masyarakat miskin di pelosok desa yang kabarnya terabaikan
hak nya untuk memperoleh penanganan kesehatan ,sering terlihat di media massa
adanya penolakan beberapa rumah sakit yang tidak bersedia memberi penanganan
medis pada pasien miskin yang tidak ditangani dengan cepat hingga ia meninggal
Marilah
lebih melihat dengan mata batin,dengan hati nurani kita,bersyukurlah untuk apa
yang telah kita punya,tolonglah sesama selagi mampu,semoga Tuhan memberkahi
kita semua.Amin
Tidak ada komentar:
Posting Komentar